Thursday, August 14, 2008

Ayah, Penentu Kualitas Anak

Ayah merupakan model bagi anak-anaknya. Meniru perilaku baik ayah, itu yang dimaui. Namun, hati-hati si kecil bisa pula meng- copy perilaku sebaliknya.

Tak sedikit ayah menyadari apa yang mereka lakukan tidak ingin ditiru anak. Para ayah juga tidak yakin apa yang seharusnya mereka lakukan. Misalnya saja, sepanjang hari Minggu ayah hanya bermain games di komputer , bermalas-malasan dan tak peduli kran kamar mandi bocor.

Sikap ayah, direkam anak

Ayah tahu ini tidak baik dan, tentu saja, ayah tak ingin anak-anaknya kelak juga berperilaku demikian. Tetapi, apa tidak boleh bermalas-malasan di hari Minggu

Apa pun jenis kelamin anak, ayah merupakan model. Sikap ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain, terekam dengan baik dalam memori anak.

Dibanding anak perempuan, anak laki-laki lebih senang meng- copy perilaku ayah. Ayah yang bermalas-malasan, memberi jejak pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Pada anak perempuan, akan muncul pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan, memang begitulah sifat laki-laki!

Mulailah jadi ayah oke

Menjadi ayah merupakan proses panjang, yang diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, yang menghargai istri dan anak-anak, yang peduli urusan rumah, yang sadar perilakunya menjadi teladan bagi anak, tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah. Benih perilaku ini sudah ada dalam dirinya sejak kecil.

Tapi, bukan berarti, tak ada harapan bagi para ayah yang ingin menjadi ayah yang lebih baik. Ada cara yang bisa Anda jalankan. Syaratnya, Anda tulus melakukannya.

* Perlakukan ibunya anak-anak dengan baik.
Menjaga keutuhan perkawinan, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibunya anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.

* Peka kondisi rumah.
Perhatikan hal-hal kecil di rumah. Misalnya, jangan cuek bila lampu taman dalam beberapa hari ini kedip-kedip. Tak perlu menunggu sampai istri dan anak-anak mengingatkan, “Yah…, lampu taman perlu diganti, tuh. Udah dua hari kedip-kedip.” Eh… sudah diingatkan masih juga Anda cuek . Jelek sekali ayah yang demikian!

* Luangkan waktu bersama anak.
Cara ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, si kecil paham ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan, ayah mementingkan dirinya sendiri.

* Bicara pada anak.
Biasanya ayah hanya mau bicara pada anak bila anak melakukan kesalahan. Mulailah ngobrol dengan anak sejak masih kecil. Dengarkan ide serta masalahnya.

* Jadilah guru bagi anak.
Ajarkan anak-anak hal baik dan buruk. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.

* Disiplinkan anak dengan cinta.
Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.

* Sediakan waktu untuk makan bersama .
Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.

* Tunjukkan perasaan pada anak.
Anak-anak butuh rasa aman dengan cara mengetahui bahwa mereka dibutuhkan dan dicintai ayahnya. Mereka juga butuh dipeluk ayah. Tunjukkan perasaan Anda agar anak-anak yakin Anda mencintainya.
Immanuella F. Rachmani
(Ayah Bunda)

Kangen Anak


Seorang ayah kangen betul sama anaknya? Seru, lucu dan unik.

Kangen anak? Pasti sering. Terbayang-bayang kaki kecilnya yang montok selalu menendang wajah Anda. Anda pun makin gemas dan ingin kakinya menyentuh wajah Anda lagi. Uh… lucunya! Ingin rasanya menggigit kaki kecil itu.

Ada saja memang cara ayah mengungkap kangen. Jangan tertawa kalau Anda bertindak ‘bodoh’. Kadek, bapak muda yang musisi, misalnya, sambil tertawa berkisah. “Pernah, saya mau meninggalkan rumah, belum juga keluar kompleks perumahan… tiba-tiba kok kangen anak. Ya… saya putar stir balik lagi ke rumah.” Maklum saja… kangen tak tertahankan itu terjadi waktu Kadek baru saja jadi bapak. Bisa jadi Anda pun pernah sekonyol ini.

Obat kangen

Kalau Anda sering meninggalkan si kecil di rumah, pasti tahu apa artinya kangen. Hari-hari Anda dipenuhi bayangannya: pipinya yang gembil atau senyumnya yang bikin sempoyongan. Memang si kecil tak ada duanya! Buat Anda , ia nomor satu, paling istimewa.

Lalu, apa yang biasa dilakukan ayah jika kangen pada anak-anaknya? Para ayah mesti berterima kasih pada Alexander Graham Bell . Berkat jasanya, meski bepergian jauh, Anda tetap bisa mendengar suara si kecil yang bening dan lucu melalui telepon.

Tengku Firmansyah , aktor sinetron dan ayah tiga anak, yang sering bepergian, mengandalkan telepon sebagai obat kangen pada ketiga buah hatinya. Begitu mendengar suara mereka, rasa kangen langsung menguap.

Demikian juga Ricky Subagdja , pemain bulu tangkis nasional. Bapak satu anak ini punya jadwal menelepon anak semata wayangnya. Meski dalam kota , paling tidak, sehari tiga kali ia menelepon si kecil karena kangen. Ada saja bahan cerita bapak-anak ini.

Cara unik

Tak hanya telepon, Firman maupun Ricky juga menyelipkan selembar foto si kecil di dompetnya. Bila kangen menyerang, foto itu bisa jadi obat mujarab. Lukito Anindyo , ayah satu anak dan seorang art director perusahaan periklanan, juga menyimpan foto buah hatinya, bukan di dompet tapi di meja kerjanya.

Ketika anaknya berusia 1,5 tahun, Lukito bahkan menyimpan sepatu pertama putranya yang telah tak dipakai. Rencananya benda tersebut akan disimpannya sebagai memorabilia. Uniknya, seringkali ia membawa sepatu tersebut ke kantor. Bila kangen datang, sepatu itu diletakkannya di atas meja kerjanya untuk dipandangi beberapa lama.

Sedangkan Firman sebaliknya. Suatu kali baju Omar, salah seorang putra kembarnya, terbawa tanpa sengaja ketika ia sedang di luar kota . Begitu menemukan baju itu, Firman malah tak bisa tidur karena kangen. Tiba-tiba ia jadi ingin sekali pulang ke rumah. O…la la!

Wednesday, August 13, 2008

Baby Blues Ayah Baru


Perasaan tak menentu menghinggapi ayah baru. “Mengapa aku begini?” mungkin begitu batin Anda. Bangkitlah agar kegalauan Anda itu pergi!

Kegembiraan Anda dengan hadirnya si kecil yang Anda nanti-nanti, tiba-tiba hilang entah ke mana; berganti dengan perasaan sedih, takut, dan stres. Semula Anda selalu ingin cepat-cepat sampai di rumah dan melihat wajah mungilnya. Kini, keinginan itu seperti sirna berganti dengan perasaan yang tak karuan.

Didera rasa galau

Perasaan tak menentu seperti sedih, takut, dan stres, setelah hadirnya si kecil kerap dirasakan ibu yang baru melahirkan. Ini karena terjadi perubahan hormon dalam tubuh ibu. Bagaimana bila perasaan seperti ini menghinggapi si ayah baru? Padahal ayah ‘ kan tidak melahirkan dan mengalami perubahan hormon seperti ibu?

Sebenarnya, sejak bayi Anda dalam kandungan istri tercinta, sadar atau tidak, ada perasaan yang meragukan kemampuan diri menjadi seorang ayah. Beragam pertanyaan mendera perasaan Anda, seperti, “Mampukah saya menjadi ayah yang baik? Akankah saya mengulangi kesalahan yang pernah ayah saya lakukan dulu? Mampukah saya memberi kehidupan yang layak bagi si kecil? Akankah anak saya mencintai saya sebagai ayahnya?” .

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berkembang hingga si kecil lahir yang, tentu saja, menambah kegalauan Anda. Ditambah ‘teror’ di malam hari, seperti bayi Anda menangis terus-menerus, tak kunjung tidur, dan rewel, sehingga Anda semakin repot dan stres.

Keadaan emosi istri, yang masih kelelahan setelah melahirkan sehingga membuatnya lekas marah dan sensitif, turut mempengaruhi kegalauan Anda menghadapi peran sebagai ayah baru.

Bangkitkan diri

Memang wajar saja kalau Anda galau, cemas, dan bimbang menghadapi situasi baru yang membawa banyak perubahan ini. Tapi, tak seharusnya Anda tenggelam dalam keadaan yang bisa disebut sebagai baby blues ini. Anda harus bangkit agar mampu melalui ini semua dengan baik.

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu Anda menghadapi situasi tak enak itu:.

* Luangkan waktu berbincang dengan teman-teman yang punya anak. Bicarakan dan diskusikan secara jujur apa yang Anda rasakan saat ini, sebelum kegalauan Anda semakin menumpuk.

* Bicarakan keresahan Anda pada istri. Ini dapat meringankan kegalauan Anda.

* Tak perlu ragu belajar bagaimana cara merawat anak, sehingga Anda dapat menghadapi ‘teror’ malam hari dengan lebih tenang. Misalnya; belajar cara mengganti popok, menenangkan bayi saat menangis, atau cara menggendong.

* Ringankan hati untuk melakukan kegiatan pengasuhan anak bersama istri. Sikap ikhlas dan rela meringankan hati Anda menjalani situasi baru ini.

* Di tengah kesibukan baru ini, luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama istri. Misalnya, makan di tempat favorit atau menonton film.

* Tak perlu ragu minta bantuan saudara, orang tua Anda atau mertua, selama masa penyesuaian ini. Pertolongan mereka memudahkan Anda melalui masa-masa sulit ini.

Ayah, Ekspresikan Perasaanmu!


Bapak-bapak sadarilah. Mengekspresikan perasaan pada si anak itu sangat penting buat dia. Jangan terlalu cool atau jaga gengsi.

Mungkin Anda suka film silat atau film western yang dibintangi Clint Eastwood. Sang hero selalu kelihatan tenang dan jarang bicara, bahkan dingin. Mungkin Anda merasa seperti itulah seorang laki-laki harusnya bersikap, bahkan terhadap keluarga, termasuk pada anak.

Anggapan ini kuno, klise dan keliru. Emosi Anda bermanfaat bagi perkembangan jiwa si kecil. Dan pada akhirnya, ini juga baik bagi Anda.

Anak pasti mencontoh

Jauhkan tokoh fiktif ala Clint Eastwood. Soalnya, selain konyol, Anda harus tahu Anda pun akan ditiru oleh anak. Kalau Anda terlalu sering bersikap hening dan angker di rumah (belum lagi kalau berhilir mudik sambil merokok dan mengenakan topi koboi) hanya karena ingin kelihatan kuat atau berwibawa, anak Anda tidak akan bisa mengelola perasaanya sendiri. Tidak bisa dihindari, orang tua adalah faktor yang paling berpengaruh.

Karena itu, rilekslah. Perlihatkan pada keluarga, tentunya dalam batas kewajaran, segala perasaan Anda. Biarkan si kecil tahu kalau Anda sedang gembira, sedikit kesal atau pun mungkin sedih. Sebenarnya, yang lebih penting adalah biarkan si kecil tahu bahwa Anda dapat mengelola perasaan Anda.

Dengan begitu, si kecil pun akan dapat belajar berempati. Kalau Anda katakan tadi sempat kesal di kantor, mungkin akan timbul insipirasinya untuk menghibur Anda.

Harus proporsional

Walaupun kebiasaan mengekspresikan perasaan akan sangat bermanfaat bagi si kecil, tapi Anda harus proporsional. Apakah Anda termasuk orang yang kalau sedang bad mood , seluruh rumah harus ikut merasakannya, seperti dikisahkan seorang anak laki-laki dalam buku A Man’s Guide To Raising Kids karya Michael Grose , penulis dan pembicara kondang soal masalah keluarga di Australia. Kalau hal ini berlangsung secara intens, tak terbayangkan bagaimana pertumbuhan emosi anak-anak Anda.

Begitupun sebaliknya, kalau kehidupan keluarga Anda hanya diisi dengan canda dan tawa, apa jadinya dengan penerapan disiplin, misalnya? Sekali-sekali, Anda perlu marah juga, bukan?

Apa pun bentuk ungkapan perasaan ayah, belajar mengekspresikan perasaan adalah hal yang sangat penting dipahami anak. Yang jelas, bagaimana cara Anda mengelola perasaan, membantu anak mengelola kesedihan, kemarahan dan kegembiraan yang dialaminya. Jadi, dari sekarang jauhilah fantasi Clint Eastwood Anda.

Bagaimana Ungkapkan Emosi?

- Membelai halus pundak si kecil membuat anak rileks, nyaman dan merasa dicintai. Hingga dewasa, anak selalu merindukan belaian ini dan sampai kapan pun sensasi juga akan Anda nikmati.

- Biasakanlah bercerita dengan bahasa yang dimengerti anak, tentang apa yang Anda alami di kantor dan bagaimana Anda mengelola perasaan Anda.

Bulan-Bulan Pertama Sebagai Ayah

Kegembiraan sebagai ayah baru bisa saja berubah karena benak Anda tersusupi kecemasan dan rasa khawatir. Bagaimana agar rasa bahagia sebagai ayah baru tetap menghuni relung hati Anda?

Wajar saja jika kegembiraan Anda setelah mendapatkan si kecil dihinggapi sejumlah kecemasan dan rasa khawatir. Anda tidak sendiri. Ayah-ayah baru lainnya pun bisa saja memiliki kekhawatiran yang sama. Akankah bayi ini menyukai saya? Akankah saya terlibat dalam kehidupan anak? Akankah saya dapat terlibat dalam pengasuhan seperti yang saya inginkan? Adakah yang harus saya korbankan agar hal itu tercapai?
Mengenal perkembangan anak

Mengenali perkembangan dan pertumbuhan si kecil bisa menjadi langkah pertama yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi berbagai kecemasan. Setidaknya, Anda dapat melakukan sesuatu untuk si kecil sehingga pertanyaan: “Apa yang dapat saya lakukan untuk terlibat dalam pengasuhan si kecil”, terjawab.

Setelah itu, kedekatan Anda dengan si bayi baru bisa membuat Anda dicintainya. Apa yang dapat Anda lakukan? Sentuh atau gendonglah si kecil sesering mungkin, bukan hanya ketika Anda merasa wajib membantunya. Misalnya, ketika ia menangis karena lapar dan haus atau basah karena mengompol.

Namun wajar-wajar saja jika pada awalnya Anda khawatir menggendong si kecil. Pada usia 1 bulan tubuh si kecil memang tampak sangat rapuh. Tidak sedikit ayah yang enggan menggendong bayi kecilnya karena takut tangan besarnya menyakiti bayi, misalnya. Untuk ini, kumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai cara menggendong bayi yang tepat. Ada baiknya Anda lakukan hal ini jauh hari sebelum kelahiran bayi.

Saat menggendong atau memandanginya, coba perhatikan ada berbagai refleks ditunjukkan bayi Anda pada bulan-bulan awal hidupnya. Refleks-refleks tersebut adalah refleks mengisap, re fleks menggenggam, refleks Moro, refleks menghentak dan refleks otot leher. Anda dapat mempergunakan ciri khas ini untuk memberikan stimulus yang sesuai.

Perkembangan lain yang perlu Anda ketahui adalah, dari sisi persepsi sensori, bayi mampu memfokuskan pandangan pada objek yang terletak di depannya dalam waktu yang singkat. Ia juga mampu merespons suara dengan menangis atau diam. Ia juga senang melihat warna yang kontras seperti hitam dan putih.

Sedangkan dari sisi psikologis, bayi akan sangat responsif dan gembira melihat dan mendengar pengasuh utamanya. Yaitu, ibunya, Anda sebagai ayahnya, atau pun si pengasuh. Buah hati Anda akan tenang saat diangkat dari tempat tidurnya, misalnya. Ayah dapat menggunakan kesempatan ini untuk membina kedekatan dengan buah hatinya.
Hari-hari si kecil

Bayi baru lahir umumnya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Ayah tak perlu khawatir jika bayi mengeluarkan suara yang cukup keras dalam beberapa waktu selama tidur.

Selain itu, hari-hari si kecil diwarnai tangisnya. Menangis memang merupakan cara bayi berkomunikasi. Bersama pasangan Anda dapat mengenali berbagai jenis tangisnya. Kapan tangis yang berarti lapar, minta dikeringkan dari ompolnya, atau hanya ingin ditimang.

Tak kalah penting adalah membantu pasangan mengenal proses sekresi dan perasaannya yang tak stabil. Mengingat makan atau minumnya belum berjadwal khusus, sekresi juga tak dapat dipastikan. Perasaannya pun demikian, semenit tenang, kooperatif dan kemudian berteriak pada menit berikutnya.

Memijat bayi dapat pula Anda lakukan. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ini, sebagaimana ditulis situs infantmassage, keterlibatan ayah dalam memberikan pengalaman perabaan pada bayi baru lahir melalui memijat bertambah. Jadi, ayah tak lagi hanya bisa mengganti diaper , memberi susu botol, memandikan, memeluk dan mengayun bayinya.
Mengenal si kecil membantu Anda dekat dengannya dan sekaligus bersama-sama pasangan terlibat dalam pengasuhan. Anda akan melihat dan menemukan kegembiraan yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya pada bayi Anda, istri dan Anda sendiri.
Fakta

Bila ibu lebih khawatir akan isu yang fungsional seperti perut yang nampak jelek setelah melahirkan atau jadwal menyusui, ayah lebih khawatir dengan penampilan bayi. Seperti: “Mengapa bayi saya berjerawat mukanya? Mengapa kulit kepala bayi saya mengelupas?”

Menjadi seorang ayah

Bandung 26 Agustus 2008, kulepas masa lajangku dan kunikahi seorang bidadari yang akan menjadi teman menjalani sisa umur hidupku, pengalaman dahsyat ini dimulai pada bulan ke-3 pernikahanku, "bidadariku": sayang aku hamil...." "Aku": Alhamdulilah......(perasaan senang yang campur aduk dengan berbagai macam perasaan)..bulan demi bulan berjalan, mengikuti perkembangan janin dalam rahim istriku...morning sicknes,istri menjadi begitu sensitif,ngidam,janin yang sudah mulai bergerak bereaksi dengan belaian ayah ibunya, itulah sebagian cuplikan kehidupan yang harus dilewati menjelang menjadi seorang ayah baru, tak terasa sudah 8 bulan usia kandungan istriku...benar-benar dahsyat pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, dari mulai mual, sampai perasaan cemas serta menopang berat tubuh yang semakin bertambah, tidur yang hanya bisa terlentang....oh..istriku terimakasi untuk semua yang telah kau lakukan untuk aku dan anak kita..., singkat cerita....di usia delapan bulan ini lahirlah putriku "Kalila Audrey Isaura" gadis tercantik dalam hidupku, Air mata ini tak bisa ku tahan ketika ku kumandangkan Adzan buat putriku, sesosok bayi mungil yang berapa waktu lalu hanya bisa kuraba dalam rahim, kini telah hadir dan kulihat dengan mata telanjang, bahagia teramat sangat kurasakan ketika kulihat anaku lahir dengan tidak kekurangan suatu apapun, kini kusadari aku sekarang telah menjadi Ayah.... Ayah yang harus bisa mempertanggung jawabkan perannya, ayah yang harus bisa menjadi contoh buat anak dan istrinya, seorang ayah yang harus bisa mendidik dirinya sehingga didikannya dituruti anaknya, seorang suami yang bisa membimbing nafsunya, bukan nafsu yang membimbing tingkah lakunya. wahai para Ayah...kini aku pun telah menjadi seorang Ayah, buat sesama ayah baru Welcome 2 d club.

Welcome to my blog

Have a nice day, artikel dalam blog ini adalah hasil saduran dari saya browsing, semoga bisa bermanfaat buat kita semua.